Arsip untuk Pemalsuan

Obat Oles/ Larutan Pijat Tradisional

Lagi-lagi dari TV, soal pelarut untuk obat pijat tradisional.  Itu lho yg katanya untuk ngurut pegel linu, biasanya didalamnya bahkan ada akar2 kering, sebagai tanda sahnya obat tersebut.

Dalam reportasi TV tadi orang tersebut mengaku sudah 15 (LIMABELAS bo!) tahun melakukan pengoplosan larutan pijat tersebut dan tanpa ketahuan dan produknya laku lagi.  Dioplos dengan apa?  lazimnya minyak sereh atau cengkeh atau kayu putih (atau minyak akar2 lainnya) yg jumlah nya sedikit, dioplos dengan minyak kelapa agar konsentrasinya menurun dan cocok (tidak iritasi) di kulit.  Nah minyak kelapa kan relatif mahal tuh, makanya diganti dengan terpentin! Apaan tuh?  itu lho pengencer cat!  Karena terpentin harga satu liternya lebih murah.  Padahal zat ini berbahaya jika digosok2an pada kulit, selain dapat menyebabkan iritasi , juga kanker kulit jika digunakan dalam jangka waktu lama.  Dalam reportasi di demokan, bagaimana terpentin gampang juga terbakar (macem spiritus itu lho).

Huh. . . lagi2 pedangang mau untuk besar, cari shortcut yg membahayakan masyarakat. . .

Komentar (2)

Pemutih Beras (dan Pemutih Gula)

Belakangan ini orang ribut soal pemutih beras, yaitu bahan untuk membuat beras menjadi putih bak putri cinderela.

Coba lihat beberapa reportasi mengenai ditemukannya klorin (kalium hipochloride atau kaporit) di dalam beras.

1. liputan 6 sctv, http://www.liputan6.com/view/8,136577,1,0,1170128257.html

2. republika http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=279770&kat_id=23

3. pos kota http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=29107&ik=6

kalau tidak salah baca, sebenarnya teknik pemutihan beras ini dulu diperkenalkan oleh IPB agar supaya beras lebih tampak cantik (kayak putri salju kaleee) tentu saja menggunakan pemutih yg aman bagi masyarakat.

Seiring dengan permintaan market, terutama di Jakarta, maka di penggilingan beras lazim ditambah zat pemutih ini. Tapi makin lama pedagang makin kreatif (cari untung gede) dengan mengganti zat pemutih yg ideal dengan khlorin, karena lebih murah. Akibatnya beras murah (yg 1000rp/kg) dioplos pemutih, lalu dibungkus label, dijual 4,000-5,000rp/kg seperti layaknya beras kelas atas.

Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras
lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa tinggi. Jika terus dikonsumsi klroin ini bisa mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal.Begitulah, mau beras cantik tapi racun, atau bagaimana? Trus gimana dong???

Bagaimana membedakannya? Berikut ini tips dari pedangang beras:

Beras berklorin mudah dibedakan dengan beras asli hanya dengan tampilan fisiknya.

“Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan utih kusam serta tidak berbau,”

Kasus pemutih ini mirip dengan gula putih, dimana digunakan pemutih gula dari bahan tulang binatang (mboh binatang opo. . .), terutama gula impor, yg bentuknya putih tih tih banget, kayak disiram cat tembok. Wah aku emoh pake gula ginian, mendingan pake gula lokal yang rada kecoklatan, rada ledeq dikit nggak apa2 asal aman (dan halal lho). Asal tau aja, itu tulang binatang yg dipakai campuran, bisa dari sapi, tapi juga bisa dari babi. . . nah lho. . . nggak ada yang tau kan? Lebih syeyem lagi, tulang yg dihancurkan model gini (utk sebagai pemutih gula), juga dapat menyebabkan kanker. . .

Ya begitulah, kalau masyarakat juga gandrung segala yg putih macam kulit putih, gigi putih, baju putih bersih, dst.

Komentar (5)